Membangun Interaksi Ideal Bersama Al-Qur'an
BAB I
PENDAHULUAN
Membaca
adalah pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang
bersifat menyeluruh tentang bacaan itu,
dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan. Dengan membaca maka pemahaman baru akan
diperoleh dengan mudah. Namun masyarakat
indonesia pada umumnya masih berada dalam transisi budaya lisan ke budaya tulisan. Kebiasaan membaca dan
menulis masih belum berkembang dengan
sepenuhnya pada anggota-anggota masyarakat. Kecendrungan mendapatkan informasi melalui percakapan
tampaknya masih lebih kuat daripada melalui
bacaan. Kecendrungan ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa minat dan kebiasaan membaca di kalangan siswa atau
mahasiswa relatif masih lemah.
Kedudukan
membaca
dalam ranah pendidikan di satu pihak sebagai integral,
yaitu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keutuhan pendidikan. Di pihak lain, pengajaran membaca
berkedudukan sebagai alat dan media fungsional, yaitu
alat dan media yang mempunyai tersendiri dalam keseluruhan kegiatan pendidikan. Namun yang sangat
disayangkan bahwa kebanyakan siswa belum menyadari
akan pentingnya membaca sebagai kebutuhan dalam dunia pendidikan.
Artinya:
1. Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
2. Dia
telah menciptakan manusia dari 'Alaq.
3. Bacalah,
dan Tuhanmulah yang paling Pemurah.
4. Yang
mengajar manusia dengan pena.
5. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.
|
|
Artinya:
Dari Utsman bin Affan RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda ‘yang paling baik
diantaramu ialah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya’ (HR.
Bukhori)
Dalam
hadis ini menjelaskan bahwa sebaik-baik orang ialah mereka yang mempelajari dan
kemudian mengajarkan Al-Quran. Begitu besar motivasi yang diberikan oleh
Rasulullah kepada umat Islam agar seantiasa mengkaji dan menelaah Al-Quran
sebagai pedoman dan tuntunan hidup dari mulai hidup di dunia sampai ke akhirat.
Tuntutan
dan anjuran untuk mempelajari Al-Quran dan menggali kandungannya serta
menyebarkan ajaran-ajarannya dalam praktek kehidupan masyarakat merupakan
tuntunan yang tak akan pernah habisnya. Menghadapi tantangan dunia modern yang
bersifat skuler dan materialistis, umat Islam dituntut untuk mengikuti
bimbingan dan ajaran Al-Quran yang mampu memenuhi kekosongan nilai moral
kemanusiaan dan spiritualitas, di samping membuktikan ajaran-ajaran Al-Quran
yang bersifat rasional dan mendorong umat manusia untuk mewujudkan kemajuan dan
kemakmuran serta kesejahteraan. Dengan demikian mempelajari Al-Quran tersebut
(mulai dari membaca, sampai memahami maknanya) adalah keharusan mutlak bagi
setiap manusia, mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa agar tercapai
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Namun
lain halnya dengan zaman modern ini . Berdasarkan pengamatan yang kami ketahui,
kami melihat gejala-gejala berikut:
1.
Sebagian orang malas membaca Al-Quran .
2. Masih ada yang belum bisa membaca Al-Quran.
3. Masih ada orang yang kurang lancar membaca Al-Quran.
4. Jika ada perlombaan membaca Al-Quran kebanyakan orang enggan untuk
mengikutinya.
Melihat
dari gejala inilah, maka kami akan menyampaikan studi kasus dengan judul
“MINAT MEMBACA AL-QURAN SEMAKIN
MENURUN”.
|
|
BAB II
KAJIAN TEORI
1. Kemampuan membaca Al-Qur’an
a. Konsep
Kemampuan Membaca
Kemampuan
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “mampu” yang mendapatkan
awalan ke dan akhiran kan yang berarti kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan
untuk melakukan sesuatu.
Membaca
merupakan suatu kegiatan yang bersifat kompleks karena kegiatan ini karena
melibatkan kemampuan dalam mengingat simbol-simbol grafis yang berbentuk huruf,
mengingat bunyi dari simbol-simbol tersebut dan menulis symbol-simbol grafis
dalam rangkaian kata dan kalimat yang mengandung makna. Menurut Farida Rahim
yang mengutip pendapat Klein, mengatakan bahwa definisi membaca mencakup:
1)
Membaca merupakan proses,
2)
Membaca adalah strategis,
3)
Membaca merupakan interaktif.
Membaca
merupakan suatu proses dimaksudkan informasi dari teks dan pengetahuan yang
dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.
Al-Qur’an
adalah nama bagi firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yang
ditulis dalam mushaf (lembaran) untuk dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia
yang apabila dibaca mendapat pahala (dianggap ibadah).
Athiyyah
mengatakan dalam bukunya yang berjudul “ Ghoyatu alMurid fi ‘ilmi at-Tajwid”
Al-Qur’an
al-Karim adalah kalamullah yang diturunkan atas nabi Muhammad saw, dianggap
ibadah bagi yang membacanya , yang disatukan secara ringkas surat di dalamnya,
yang sampai kepada kita dengan jalan mutawattir.
Jadi
kemampuan membaca Al-Qur’an yang dimaksud oleh peneliti adalah kesanggupan anak
untuk dapat melisankan atau melafalkan apa yang tertulis di dalam kitab suci
Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan makrajnya.
|
|
b. Dasar Membaca
Al-Qur’an
Dalam
membaca Al-Qur’an ada beberapa aspek yang
menjadi dasar yang dijadikan sebagai landasan, adapun
dasar tersebut diantaranya :
1)
Dasar Al-Qur’an
Artinya:
1. Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
2. Dia
telah menciptakan manusia dari 'Alaq.
3. Bacalah,
dan Tuhanmulah yang paling Pemurah.
4. Yang
mengajar manusia dengan pena.
5. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya. (Q.S.al-’Alaq / 96 :
1-5 )
2)
Dasar Hadits
Sedangkan
hadits yang memerintahkan untuk membaca
Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
Telah menceritakan kepadaku Abu Umamah AlBahalli berkata:
aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang
pada hari kiamat sebagai pembela bagi orang yang membacanya (HR. Muslim)
3)
Dasar Psikologi
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
tingkah laku manusia.8 Dalam hal ini mengapa psikologi termasuk aspek dasar
dalam membaca Al-Qur’an,
karena dalam psikologi yang dimaksud dengan tingkah laku adalah segala
kegiatan, tindakan, perbuatan manusia yang kelihatan maupun yang tak kelihatan,
yang disadari ataupun yang tidak disadari, psikologi berusaha menyelidiki semua
aspek dan kepribadian tingkah laku manusia.
Setiap
manusia hidup selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut
agama. Untuk merasakan bahwa di dalam jiwanya ada perasaan yang meyakini adanya
dzat yang maha kuasa sebagai tempat untuk berlindung dan memohon pertolongan.
Sedangkan Al-Qur’an memberikan ketenangan jiwa bagi yang membacanya.
c. Adab Membaca
Al-Qur’an
Dalam melakukan segala perbuatan yang
dilakukan manusia memerlukan adab (etika), hal ini dapat diartikan aturan, tata
susila, sikap atau akhlak, dengan demikian adab (etika) dalam membaca Al-Qur’an
secara kebahasaan adalah ketentuan atau aturan yang berkenaan dengan tata cara
membaca Al-Qur’an.
|
|
Membaca
Al-Qur’an tidak sama dengan membaca koran, atau buku-buku lain yang merupakan
kalam manusia dan bersifat perkataan belaka. Membaca AlQur’an merupakan membaca
kalamullah berupa firmanfirman Tuhan, ini merupakan komunikasi antara makhluk
dengan Tuhannya, seolah-olah berdialog dengan Tuhannya. Oleh karena itu,
diperlukan adab dan aturan yang perlu diperhatikan, dipegang serta dijaga
sebelum dan disaat membaca Al-Qur’an, agar dapat bermanfaat bacaannya,
sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya 1) Adab Membaca Al-Qur’an Banyak
sekali adab-adab membaca Al-Qur’an. Namun, adab membaca Al-Qur’an dapat dikategorikan
menjadi dua macam, yaitu adab lahiriyyah dan adab bathiniyyah.
a) Adab lahiriyah, diantaranya:
(1) Dalam keadaan bersuci Diantara adab membaca
Al-Qur’an adalah bersuci dari hadats kecil, hadats besar, dan segala najis,
sebab yang dibaca adalah wahyu Allah bukan perkataan manusia. Sesuai dengan
firman Allah yang artinya “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang
disucikan. Diturunkan dari Rabbil 'alamiin(Q.S. al-Waqi’ah/56: 79-80).”
(2) Memilih tempat yang pantas dan suci Tidak
seluruh tempat pantas atau sesuai untuk membaca Al-Qur’an, ada beberapa tempat
yang tidak sesuai dalam membaca AlQur’an seperti di kamar mandi, pada saat
buang air kecil, di tempat-tempat kotor dan lain-lain. Hendaknya pembaca
Al-Qur’an memilih tempat yang suci dan tenang seperti masjid, mushalla, rumah
atau tempat yang dianggap terhormat.
(3) Menghadap kiblat dan berpakaian sopan
Pembaca Al-Qur’an dianjurkan menghadap kiblat dan berpakaian secara sopan,
karena membaca Al-Qur’an adalah beribadah kepada Allah SWT, seolah-olah pembaca
berhadap dengan Allah untuk berdialog denganNya.
(4)
Bersiwak (membersihkan mulut) Hal ini bertujuan untuk membersihkan sia-sisa
makanan dan bau mulut yang tidak enak, orang yang membaca Al-Qur’an seperti
halnya berdialog dengan Allah, maka sangat kayak jika ia bermulut bersih dan
segar bau mulutnya.
(5) Membaca ta’awudz sebelum membaca AlQur’an.
Allah berfirman Q.S. an-Nahl/16 : 98 yang artinya “Apabila kamu membaca Al
Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang
terkutuk. (Q.S. an-Nahl/16 : 98).”
(6)
Membaca dengan tartil Membaca tartil adalah membaca dengan tenang, pelan-pelan
dan memperhatikan tajwidnya.13 Allah berfirman QS: AlMuzammil: yang artinya”
Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan
(QS: AlMuzammil/73:4).
(7) Membaca Jahr(nyaring)
(8) Memperindah suara Al-Qur’an adalah hiasan
bagi suara, maka suara yang bagus akan menembus hati, usahakan membaca
Al-Qur’an dengan memperindah suara, tentunya tidak berkelebihan sehingga tidak
memanjangkan bacaan yang pendek, atau sebaliknya memendekkan bacaan yang
panjang.
b) Adab batiniah di antaranya:
|
|
Tadabbur
yaitu memperhatikan sungguhsungguh hikmah yang terkandung dalam setiap
penggalan ayat yang sedang dibacanya.
(2)
Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’ dan khudhu’.
Artinya
merendahkan hati kepada Allah SWT sehingga Al-Qur’an yang dibaca mempunyai
pengaruh bagi pembacanya.17 Allah berfirman: QS; Al-Isra’;109 yang artinya “Dan
mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah
khusyu'.( QS; Al-Isra’;109).”
(3)
Membaca dengan Ikhlas
yakni
membaca AlQur’an hanya karena Allah dan hanya mencari ridho Allah.
d. Keutamaan
Membaca Al-Qur’an
Membaca
Al-Qur’an merupakan pekerjaan yang utama, yang mempunyai berbagai keistimewaan
dan kelebihan dibandingkan dengan membaca bacaan lainnya. Al-Qur’an mempunyai
beberapa keutamaan bagi orang yang membaca dan mempelajarinya. Diantara
keutamaan membaca Al-Qur’an adalah:
1)
Menjadi manusia
terbaik,
Hajjaj
bin Minhal menceritakan kepada kita, Syu’bah menceritakan kepada kita, dia
berkata: ‘Alqomah bin Marsad mengabarkan kepada saya saya mendengar Sa’ad bin
Ubaidah dari Abi Abdirrahman as-Sulami dari Usman RA dari Nabi SAW, beliau
bersabda: “sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan
al-Qur’an” (HR. Bukhari)
2)
Orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan kenikmatan tersendiri.
3)
Orang yang membaca Al-Qur’an diberikan derajat yang tinggi.Sebagaimana hadist
Nabi: Dari Umar Bin Khotob ra. Bahwa Nabi Muhammad SAW. Bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajad beberapa kaum dengan
AlKitab (Al-Qur’an), dan ia akan merendahkan derajad suatu kaum yang lain
dengannya. (H.R Al-Bukhari Muslim).
e. Enam Hal yang
Harus di Perhatikan untuk Mewujudkan Bentuk Interaksi yang Ideal dengan
Al-Qur’an
|
|
1. At-Tadabbur (Mentadabburi
al-quran). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Muhammad (47) ayat 24:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ
الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾
Artinya: “Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad(47): 24)
Al-quran bukanlah buku bacaan
yang hanya dibaca tanpa adanya pentadabburan atau perenungan dari orang yang
membacanya. Namun inilah yang terjadi dimasyarakat kita sekarang, mereka hanya
membaca al-Quran dengan mulutnya saja tanpa direnungkan dalam hatinya apa makna
dan hikmah dalam ayat atau surat yang mereka baca. Oleh karena itu kebanyakan
masyarakat sekarang masih tidak mampu dalam mengendalikan dirinya khususnya
dalam akhlak mereka, karena al-Quran bagi mereka hanyalah seperti angin lewat
yang tidak ada dampak, bekas atau fungsi apapun yang dapat merubah dan
memajukan diri orang yang membaca kalam Allah SWT itu.
Rumah yang terkunci, lemari
yang terkunci, jendela yang terkunci atau segala sesuatu yang terkunci, apakah
kita bisa masuk atau memasukkan sesuatu kedalamnya dalam keadaaan terkunci
seperti itu?, tentu jawabannya tidak. Begitupun dengan hati yang terkunci yang
meskipun dibacakan kepadanya ayat-ayat al-Quran atau hadis-hadis nabi, tapi
karena hatinya telah terkunci, maka ayat-ayat dan hadis nabi yang disampaikan
kepadanya tidak akan berpengaruh terhadapan perubahan kehidupannya. Sama halnya
dengan mereka yang membaca al-Quran hanya menggunakan lisannya saja tanpa
menggunakan hatinya untuk mentadabburi ayat-ayat yang dibacanya.
2. At-tadzakkur (mengingat
/mempelajarinya), sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Qamar (54) ayat
17:
وَلَقَدْ
يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِر ﴿١٧﴾
Artinya: “Dan
sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang
yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar (54): 17)
Al-quran adalah kitab yang
jelas kebenarannya dan mudah dimengerti (masuk akal) dalam kisah-kisah atau
pelajaran-pelajaran yang terdapat didalamnya. Maka semua pelajaran atau
kisah-kisah yang ada dalam al-Quraan merupakan pengajaran Allah SWT kepada umat
manusia agar dapat terlepas dari kesesatan-kesesatan atau ketidak mengertian
hidup di dunia yang pana ini menuju hidayah dan cahaya Allah SWT.
Dalam membaca al-Quran kita
tidak diharuskan membaca banyak-banyak tapi kosong pelajaran, akan tetapi dalam
membaca al-Quran tentu kita harus dibarengai dengan mempelajarinya. Karena
seseorang itu tidak dilahat banyak sedikitnya ia membaca al-Quran akantetapi
dilihat apakah ia dapat mengambil pelajaran yang ada di dalamnya meskipun ia
hanya membaca satu atau dua ayat saja.
Para sahabat pada zaman nabi
saw tidak pernah membaca al-Quran kecuali mereka membaca untuk mempelajarinya,
bahkan dalam sirah-nya nabi saw mengajarkan al-Quran kepada para
sahabatnya tidak banyak-banyak tapi hanya sepuluh ayat-sepuluh ayat hingga para
sahabat mempelajari dan memahami makna yang terkandung dalam ayat itu, barulah
nabi mengajarkan sepuluh ayat berikutnya dan harus kita ketahui bahwa dalam
pengajarannya tersebut Rasulullah SAW tidak mewajibkan untuk menghafalnya, akan
tetapi beliau hanya fokus dalam mengajarkan makna dan hikmah yang ada
dalam ayat tersebut.
|
|
3. Al-isti’adzah
qobla al-qira’ah (membaca ta’awwudz sebelum membacan al-Quran),
sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nahl (16) ayat 98:
فَإِذَا
قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾
Artinya: “Apabila
kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari
syaitan yang terkutuk.” (an-Nahl (16): 98)
Merupakan dari ciri karakter setan adalah mereka
senantiasa berusaha dalam memalingakan dan menghalang-halangi kita dari
amalan-amalan saleh yang akan mendekatkan kita kepada Allah SWT sebagimana yang
telah diakui oleh setan itu sendiri yang diabadikan oleh Allah SWT dalam surat
al-A’raf (7) ayat 16:
قَالَ
فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾
Artinya: “Iblis
menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar
akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” (al-A’raf
(7): 16)
Dari ayat diatas maka jelaslah bawa setan telah
mengatakan sendiri bahwa ia akan selalu menghalang-halangi manusia dari
perbuatan baik termasuk didalamnya adalah ketika seseorang mempelajari
al-Quran. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan kepada kita agar
mengucapkan ta’awwudz sebelum membaca dan mempelajari al-Quran
sebagai tameng bagi diri kita dari gangguan setan yang terkutuk.
4. Al-istimaa
wa al-inshath (mendengarkan dan berdiam ketika
dibacakan al-Quran), sebagaimana firman Allah dalam surat al-‘Araf (7) ayat
204:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ
فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿٢٠٤﴾
Artinya: “Dan
apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah
dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (al-‘Araf (7): 204)
Dalam mendapatkan hidayah atau
petunjik seseorang tidak hanya karena ia sering membaca al-Quran saja,
akantetapi mungkin dan banyak terjadi seseorang yang mendapatkan hidayah justru
karena ia mendengarkan ayat-ayat Allah SWT dari mulut orang lain, entah itu
karena orang yang membacanya dapat membaca dengan tartil sesuai dengan tajwid,
makhorojul hurf dan panjang pendeknya ataupun karena keindahan suara orang yang
membacanya sehingga lebih memperindah ayat-ayat al-Quran dengan suara merdu
orang yang membaca ayat tersebut. Sebagai contoh adalah Umar bin Khattab yang
mana ia adalah seorang yang keras dan sangat membenci Rasulillah SAW, namun
ketika ia mendengarkan al-Quran dari adiknya sendiri ia mengurungkan niatnya
untuk membunuh Rasulullah SAW bahkan akhirnya ia menyatakan keislamannya kepada
Rasulullah SAW.
Maka itulah salah satu hikmah
yang sangat berharga ketika kita mendengar al-Quran lantas kita mendengarkannya
dengan khidmat dan penuh perhatian. Jangan sampai kita berlaku sebaliknya,
ketika ada seseorang yang membaca al-Quran kita malah mengganggu orang tersebut
dengan menyetel lagu-lagu yang bervolume sangat keras atau pun dengan
gangguan-gangguan lain. Maka sungguh perbuatan tersebut adalah perbuatan yang
sangat tercela dihadapan Allah SWT atau dihadapan manausia.
5. I’timadu
at-tartil (memprioritaskan pembacaannya dengan tartil), sebagaimana firman Allah SWT
dalam surat al-Muzammil ayat 4:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ
تَرْتِيلًا ﴿٤﴾
|
|
Membaca dengan tartil, artinya dalam membaca
al-Quran tidak seharusnya kita tergesa-gesa sehingga dapat merusak bacaan kita
dari kaidah-kaidah tajwid makhorijul huruf dan panjang pendeknya yang mana kita
ketahui bahwa al-Quran adalah berbahasa arab yang apabila dalam membacanya ada
satu huruf saja yang tidak terbaca atau makhorijul hurufnya salah, maka
kemungkinan besar maknanya akan berbeda dengan yang diharapkan oleh sang
pemilik al-Quran tersebut yaitu Allah SWT.
Membaca al-Quran dengan tartil juga dapat menolong kita
dalam memahami al-Quran secara jeli dan teliti sehingga tiap kalimat yang kita
baca akan meresap dan membekas dalam hati dan jiwa kita. Dengan pembacaan yang
tartil, kita juga dapat terhindar dari ketertinggalan makna kalimat dari ayat
yang kita baca yang dapat menjadikan kita kurang paham terhadap ayat tersebut,
namun hal tersebut tidak akan terjadi jika dalam membacanya kita memikirkan
kata-perkata atau kalimat perkalimat secara tartil.
Dan sabda rasulullah saw:
Artinya: “telah
menceritakan kepada kami Salmah bin Syabib, telah menceritakan kepada kami Abdu
a-Razzaq, telah menceritakan kepada kami abdullah bin al-Muharrar dari Qotadah,
dari Anas, ia berkata (bahwa) rasulullah SAW pernah bersabda: ‘stiap
sesuatu itu memiliki warna dan warnanya al-Quran adalah (pembacaannya dengan)
suara yang bagus”.
6. Ar-ruju
ila ahli adz-dzikri (kembali kepada ahli ilmu), sebagaimana firman
Allah SWT dalam surat an-Nahl (16) ayat 43:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ
الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٤٣﴾
Artinya: “maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”, (an-nahl (16): 43)
Yang dimaksud dengan ahli ilmu di sini adalah mereka yang
memahmi ilmu-ilmu tentang al-Quran dengan segala seluk beluknya, yang mana kita
diperintahkan untuk mengembalikan atau bertanya kepada mereka tentang
makna-makna atau dalil-dalil dari ayat-ayat al-Quran yang belum kita pahami.
Jadi jangan sampai kita menafsirkan al-Quran dengan ilmu kita yang terbatas,
sehingga tidak memperhatikan prinsip-prinsip dalam menafsirkan sebuah ayat
al-Quran.
Dan firman Allah SWT dalam
surat ali Imran (3) ayat 7:
وَمَا يَعْلَمُ
تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ ﴿٧﴾
|
|
Ayat ini juga merupakan penegasan bagi kita agar kita
senantiasa bertanya kepada yang mendalami ilmu tentang al-quran ketika kita
mendapatkan ayat al-Quran yang tidak kita pahami makna dan tujuan yang
terkandung didalamnya sehingga kita tidak keliru dalam memahami ayat tersebut.
Para ulama berbeda berpendapat dalam memahami siapakah
yang dimaksud dengan ar-Rasihuna fi al-ilmi dalam ayat
tersebut, namun pendapat yang lebih dekat adalah mereka yang merupakan golongan
keluarga Rasulullah SAW (ahlul bait) yang mana mereka mengambil ayat-ayat
tersebut murni langsng dari nabi saw. Namun dari sana kita bisa mengambil
faidah, dikarenakan kita tidak menemukan mereka lagi dalam artian kita sudah
berbeda zaman dengan masa nabi, maka tentu kita harus bertanya kepada orang
yang lebih mengetahui dibandingkan kita, yaitu kepada mereka yang selalu
mendalami ilmu-ilmu al-Quran.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kemampuan Membaca Al-Qur’an Secara umum
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan
membaca Al-Qur’an di bagi menjadi 3, yaitu:
1)
Faktor
Internal (faktor dari dalam diri siswa)
Yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani
siswa. Faktor internal meliputi 2 aspek, yaitu:
a) Aspek Fisiologis (yang bersifat
jasmaniah) Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat
kebugaran organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi intensitas dan
semangat, hal ini dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga
proses informasi sangat terganggu.
Keadaan fungsi fisiologis tertentu,
terutama kesehatan pancaindra akan mempengaruhi belajar. Pancaindra merupakan
alat untuk belajar. Karenanya, berfungsinya pancaindra dengan baik merupakan
syarat untuk dapatnya belajar dengan baik, indra merupakan gerbang masuknya
berbagai informasi dalam proses belajar.
Kondisi fisiologis mempunyai peran penting
dalam memengaruhi kemampuan membaca AlQur’an. Karena dalam membaca Al-Qur’an
diperlukan indra penglihat sebagai sarana melihat objek yang dibaca, serta
indra pendengar sebagai sarana untuk menerima informasi. Kondisi fisiologis
sangat mempengaruhi intensitas dalam kemampuan membaca Al-Qur’an.
b) Aspek Psikologis
(yang bersifat rohaniah) Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis
mempengaruhi kuantitas dan kualitas kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an.
Muhibbin Syah dalam bukunya menjelaskan, ada beberapa faktor-faktor rohaniah
siswa pada umumnya dipandang lebih esensial yaitu;
(1) Intelegensi
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan
sebagai kemampuanpsiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri
dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber,1988). Jadi, inteligensi
sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja melainkan kualitas organ-organ
tubuh lainnya. Harus diakui, peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi
manusia lebih menonjol dari pada peran organ tubuh lainnya.
Kemampuan intelegensi seseorang ini
dapat terlihat adanya beberapa hal, yaitu:
(a)
Cepat menangkap isi pelajaran
(b)
Tahan lama memusatkan perhatian pada pelajaran dan kegiatan.
(c)
Dorongan ingin tahu kuat dan banyak inisiatif
|
1
|
(e)
Sanggup bekerja dengan baik
(f)
Memiliki minat
Intelegensi ini sangat dibutuhkan sekali
dalam belajar, karena dengan tingginya inteligensi seseorang maka akan lebih cepat menerima
pelajaran atau informasi yang disampaikan, termasuk kemampuan membaca
Al-Qur’an.
(2) Sikap
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi gejala
internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau
merespons (response tendency) dengan cara relative tetap terhadap objek orang,
barang, dan sebagainya.
(3) Bakat Secara umum
Bakat adalah kemampuan potensial yang
dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
Bakat juga diartikan sebagai sifat dasar kepandaian seseorang yang dibawa sejak
lahir.Adanya perbedaan bakat seseorang dapat memengaruhi cepat atau lambat
dalam menguasai kemampuan membaca Al-Qur’an.
(4) Minat
Secara sederhana, minat (interest)
berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar
siswa dalam bidang-bidang studi tertentu.
Adanya minat, terhadap belajar membaca
Al-Qur’an akan mendorong siswa untuk mempelajarinya dan mencapai hasil yang
maksimal. Dr. Nyanyu Khadijah mengatakan dalam bukunya. Karena minat merupakan
komponen psikis yang mendorong seseorang untuk meraih tujuan yang diinginkan,
sehingga seseorang bersedia melakukan kegiatan berkisar objek yang diminati.
Jika sikap ini tumbuh dan berkembang pada pola belajar peserta/anak didik maka
proses belajar mengajar akan berkembang dan meningkat dengan baik
(5) Motivasi
Pengertian dasar motivasi adalah keadaan
internal organism yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini,
motivasi berarti pemasok daya (energi) untuk bertingkah laku secara terarah.
Dalam perkembangan selanjutnya motivasi dapat
dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
(a) Motivasi
Intrinsik
Motivasi Intrinsik adalah hal dan keadaan yang
berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan
tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik adalah perasaan menyenangi
materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk masa depan
siswa yang bersangkutan tersebut.
|
|
(b) Motivasi
Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah hal dan keadaan
yang dating dari luar individu siswa yang juga memdorongnya untuk melakukan
belajar. Misalnya, pujian, hadiah, suri tauladan guru, orang tua dan lain
sebagainya.
2)
Faktor
Eksternal (faktor dari luar siswa)
Yakni kondisi di sekitar siswa. Faktor
eksternal adalah faktor yang timbul dari luar diri siswa. Adapun faktor
eksternal yang mempengaruhi kemampuan membaca Al-Qur’an secara umum terdiri
dari dua macam, yaitu:
a) Lingkungan
sosial
Lingkungan
sosial yang paling banyak mempengaruhi adalah orang tua dan keluarga.
Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan
letak demografi keluarga (letak rumah), semua dapat memberikan dampak baik atau
buruk terhadap proses belajar.
Yang
termasuk lingkungan sosial lainnya adalah guru, terutama kompetensi pribadi dan
professional guru sangat berpengaruh pada proses dan hasil belajar yang dicapai
anak didik.Selanjutnya, lingkungan sosial mencakup, temanteman bermain,
kurikulum sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat yang
dimaksud disini adalah lingkungan di luar sekolah.
Lingkungan masyarakat dapat diartikan
lingkungan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Lingkungan masyarakat ini sangat
besar sekali pengaruhnya dalam ikut serta menentukan keberhasilan proses
pendidikan, karena lingkungan masyarakat yang secara langsung bersinggungan
dengan aktivitas sehari-hari.
b) Lingkungan
non sosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non
sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa
dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan
siswa.
Semua
ini dipandang turut menentukan kemampuan membaca Al-Qur’an. Misalnya rumah
sempit dan berantakan atau perkampungan yang terlalu padat penduduk serta tidak
memiliki sarana belajar, hal ini akan membuat siswa malas belajar dan akhirnya
berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an.
3)
Faktor
Pendekatan Belajar (approach to learning)
Faktor pendekatan belajar, dapat
dipahami sebagai cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang dalam
keefektifan dan efisiensi proses pembelajaran tertentu. Strategi dalam hal ini
berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk
memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.
|
|
B. PENGARUH
TEKNOLOGI TERHADAP MINAT BACA AL-QURAN
Salah satu faktor atau penyebab terjadinya
penurunan minat baca Al-Qur’an yang pertama adalah kemajuan teknologi. Yang
dimaksud disini adalah semakin canggih suatu alat teknologi semakin banyak pula
minat pemakaiannya. Sekarang banyak remaja yang salah guna dalam menggunakan
teknologi. Mereka lebih memilih menggunakan gadget untuk hal-hal yang tidak
penting seperti mereka lebih memilih mengisi waktu luang dengan menggunakan
gadget untuk bermain media sosial. Mereka lebih mementingkan kepopulerannya di
media sosial dengan memosting beberapa foto dan status yang kurang bermanfaat
dari pada mengisi waktu kosong mereka dengan hal-hal yang baik.
Keasikan remaja menggunakan gadget, membuat
mereka hampir lupa waktu dan kecanduan dari gadget tersebut. Mereka sama sekali
tidak memperdulikan apa yang terjadi disekitarnya. Banyak dari mereka lebih
mengisi waktu luangnya dengan gadgetnya untuk foto-foto dibandingkan meluangkan
sedikit waktu dengan membaca Al-Qur’an. Padahal, mereka bisa mendownload
aplikasi Al-Qur’an digadgetnya dan mereka bisa meluangkan waktu untuk
membacanya. Logikanya, mereka pasti setiap hari menggunakan handphone dan
gadgetnya, tentu saja mereka sebenarnya bisa meluangkan waktu untuk mendownload
aplikasi Al-Qur’an dan membacanya meskipun hanya satu ayat.
Faktor kedua yang
menyebabkan minat baca Al-Qur’an adalah kurangnya tanggung jawab orang tua
untuk memberikan fasilitas dan mengarahkannya dalam kegiatan membaca atau
belajar terhadap anaknya. Orang tua yang kurang memperhatikan kegiatan belajar
anaknya, tidak peduli apa yang dilakukan anaknya, acuh tak acuh, dan akhirnya
prestasi belajarnya sang anak menurun, kemudian nilai-nilai dalam keagamaannya
sendiri kurang diperhatikan. Disini
dapat disimpulkan bahwa peran orang tua sangat besar dalam meningkatkan minat
baca Al-Qur’an seorang anak. Orang tua dituntut supaya mengajarkan hal-hal yang
baik kepada anaknya, seperti meningkatkan minat baca Al-Qur’an sang anak dengan
memperbaiki ikatan anak dan orang tua, meluangkan waktu bersama untuk membaca
Al-Qur’an.
Faktor ketiga ialah menurunnya jumlah guru
mengajar mengaji. Guru mengaji sulit ditemukan, bahkan di antara mereka kadang
enggan mengajar mengaji atau disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Sesuai yang disampaikan Menteri Agama, Suryadharma Ali pada saat meresmikan
Masjid AlMunawariyah di Pondok Pesantren Al-Munawariyah, Kabupaten Malang
Provinsi Jawa Timur, Ahad 24 Maret 2013. Berdasarkan laporan yang diterimanya,
saat di Kabupaten Garut saja sudah terjadi kelangkaan guru ngaji, karena banyak
ustadz/ustadzah yang alih profesi untuk mencari mata pencaharian lain, akibat
kurang perhatian pemerintah. Disini dapat disimpulkan bahwa pemerintah ikut
berperan dalan tingkat minat baca Al-Qur’an.
|
|
Faktor kelima yaitu faktor lingkungan. Faktor
lingkungan juga berpengaruh dalam penurunan minat baca A-Qur’an. Contohnya, ada
sebuah keluarga yang pindah rumah dan menetap disebuah tempat lingkungannya
yang memungkinkan kurang mendidik atau tidak mendukung. Tentu saja lingkungan
ini akan berpengaruh terhadap perkembangan anak dari keluarga tersebut.
Pergaulan sesama temannya dapat cepat sekali mempengaruhi kebiasaan anak itu.
Dari faktor penurunan tersebut, diperlukan
suatu solusi untuk meningkatkan minat baca Al-Qur’an. Karena hal ini sangatlah
penting. Terdapat lima cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Pertama, adanya program literasi baca Al-Qur’an sebelum memulai kegiatan
belajar mengajar. Seperti di sekolah SMA Negeri 1 Koba yang telah menerapkan
literasi baca Al-Qur’an sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Hal ini
bertujuan untuk membuat suasana menjadi tenang dalam kegiatan belajar mengajar,
lebih fokus dan meningkatkan diri kepada Allah SWT selain meningkatkan literasi
membaca Al-Quran itu sendiri.
Kedua, meningkatkan kesadaran diri sendiri.
Kita harus intropeksi diri apa yang ingin kita lakukan. Apabila ada waktu
luang, kita bisa untuk memulai hal baru, hal yang mungkin tidak pernah kita
lakukan. Dari sinilah kita dapat memulai mengisi waktu luang kita dengan
membaca kitab suci Al-Qur’an dibandingkan dengan membuang waktu sia-sia.
Misalnya dengan membaca Al-Qur’an selesai sholat. Meskipun hanya dua atau tiga
ayat, maanfaat yang bisa kita dapatkan begitu banyak. Jangan enggan memulai hal
yang baru, karena itu akan membuat diri kita lebih baik lagi.
Ketiga, memanfaatkan kemajuan teknologi yang
kian canggih. Kita dapat memodifikasi cara belajar penulisan dan membaca
Al-Qur’an dengan menggunakan komputer ataupun laptop. Siswa atau guru bisa
mengaplikasikan laptop atau komputer untuk proses belajar mengajar membaca atau
menulis huruf-huruf Al-Qur’an. Dengan semakin canggih alat elektronik yang
masuk dalam dunia pendidikan, disamping para siswa telah memiliki dasar
kemampuan menggunakan komputer ataupun laptop, maka siswa akan semakin tertarik
dan tertantang untuk belajar Al Quran.
Keempat, meningkatkan peran orang tua untuk
meningkatkan minat baca. Karena orang tua sangat berpengaruh dalam perkembangan
anak. Orang tua harus bisa mengubah pola asuh anak. Yang semulanya hubungan
anak dan orang tua renggang atau orang tua kurang memperhatikan si anak. Orang
tua bisa menghidupkan kembali suasana menjadi lebih harmonis. Dengan cara,
orang tua bisa meluangkan waktu luang dengan anaknya untuk solat berjamaah atau
bisa juga mengajak anak untuk mengaji bersama. Hal ini dapat membuat
perkembangan anak menjadi lebih baik.
|
|
Membaca Al-Qur’an banyak memberikan manfaat
yang dapat kita ambil. Menurut Dr. Al Qadhi yang merupakan seorang dokter
syaraf ternama di Amerika Serikat, melalui penelitiannya bertahun-tahun di
Klinik Induk Florida. Beliau mengatakan, dengan mendengar ayat suci Al-Qur’an
seorang muslim bisa merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar, menambah
kecerdasan bagi otak, menurunkan despresi, kesedihan, memperoleh ketenangan
jiwa, menangkal beberapa macam penyakit. Penelitian Dr. Al Qadhi ini, diperkuat
pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam
laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam
Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan
ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Manfaat Al-Qur’an bagi seorang bayi sangat
berpengaruh besar, Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan
kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar
Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut
penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat
Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih
tenang.
Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa
Allah menurunkan kitab suci Al-Qur’an bukan tanpa alasan. Allah memiliki tujuan
yang sangat penting menurunkan kitab suci Al-Quran sebagai sebuah pedoman bagi
umat Islam. Al-Quran juga membawa banyak macam manfaat. Salah satunya dengan
membaca Al-Qur’an dapat meningkatkan kecerdasan otak, daya ingat yang kuat dan
memberikan ketenangan dalam jiwa. Jadi, tentu saja sangat rugi sekali bagi
mereka yang enggan atau gengsi untuk mempelajari kitab suci Al-Quran dan
membacanya, karena mereka telah melewatkan berbagai macam manfaat yang terjadi apabila
kita mempelajari dan membaca kitab suci Al-Qur’an. Oleh karenanya, mari kita
tingkatkan minat baca kita terhadap Al-Qur’an, sehingga dapat menjadi ibadah
sekaligus dapat membawa dampak positif bagi kita sendiri.
C. CARA
MENINGKATKAN INTERAKSI IDEAL BERSAMA ALQURAN
1.
Pelajari dan ketahui tentang manfaat dan keutamaan membaca Al-Qur’an
“Barangsiapa
membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan
dari huruf itu, dan satu kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku
tidaklah mengatakan alif-lam-mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam
satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Turmudzi)
Sekarang,
coba kita bayangkan, kalau kita berhasil menyelesaikan 1 juz dalam Al-Qur’an.
Dan dari setiap huruf yang kit abaca diberikan ganjaran 10 kali lipat, begitu
luar biasa pahala yang kita dapatkan dari membaca Al-Qur’an.
|
|
Jadi,
tidak ada lagi sebenarnya alasan untuk idak membaca Al-Qur’an.
2.
Buat komitmen pada diri sendiri
Buatlah
komitmen dan janji pada diri sendiri untuk bisa selalu Istiqomah dalam mambaca
Al-Qur’an setiap hari. Yakinkan diri sendiri, bahwa tidak ada yang bisa
memisahkan kita dari Al-Qur’an kecuali jika ajal suda datang menjemput.
Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pelita jika kita Tersesat dalam kegelapan.
Yakinlah! Al-Qur’an akan menjadi kompas jikala kita tersesat dan kehilangan
arah, dan sebagai obat jikala hati kita sakit.
3.
Mencari teman yang tujuannya sama
Bersama
sama dengan orang yang sholeh dan sholehah yang sama sama mencintai Al-Qur’an
akan mendorong keinginan kita dalam membaca dan Mempelajarinya. Secara langsung
atau tidak kita akan selalu semangat dalam membaca dan mempelajarinya.
Kalau
kita tidak bisa menemukan orang orang seperti itu karena beberapa alasan, maka
kita bisa ikut di komunitas social media yang punya satu visi dengan kita.
Contohnya komunitas One Day One Juz.
4.
Bergabung dengan komunitas pecinta Al-Qur’an
Mungkin,
kita tidak bisa menemukan orang di lingkungan kita yang juga mencintai
Al-Qur’an dikarenakan beberapa hal. Jangan putus semangat! Ada banyak komunitas
komunitas diluar sana yang juga satu tujuan dengan kita. Apalagi seiring
berkembangnya zaman komunitas komunitas ini banyak yang menyediakan komunitas
online.
Di dalamnya kita bisa banyak belajar dan mendapatkan
banyak motivasi yang bisa kita jadikan sebagai batu loncatan untuk
mempertahankan semangat serta kemauan kita dalam membaca dan mempelajari
Al-Qur’an.
5.Mencintai
Al-Qur’an dan memiliki hasrat untuk terus mempelajari Al-Qur’an
Yaitu
cintailah Al-Qur’an, dan milikilah hasrat untuk selalu membacanya. Adakalanya
kita merasa jenuh atau mungkin ada rasa malas yang mulai menggoda.
Sesungguhnya, saat itu Al-Qur’an lagi rindu dan pengen dibaca sama kita. Maka,
cintailah Al-Qur’an, Kitab Allah yang maha sempurna.
Selain
itu, jangan malu untuk membaca atau bertilawah di tempat umum. Karena untuk
mencapai satu juz satu hari, bisa saja kita membaca Al-Qur’an dimanapun kita
berada kalau ada waktu kosong. Buat apa malu? Toh, kan mereka Cuma manusia..
masa bodo mereka mau bilang apa. Kan yang member kita pahala itu Allah, bukan
mereka.
|
|
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
setiap umat Islam hukumnya wajib untuk memperdalam Al-Qur’an dan
mengamalkannya, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup didunia, sehingga ia
benar-benar menjadi pedoman hidup yang akan membawa pada kebangkitan dan
kemenangan.
Apabila kita menginginkan kebahagiaan,
maka kembalilah kepada Al-Quran dan apabila kita menginginkan kesuksesan dan
kemuliaan, maka berpegang teguhlah pada Al-Quran karena didalamnya terdapat
segala apa yang kita perlukan utuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Allah SWT
berfirman dalam surat Al-Ankabuut ayat 51 yang berarti : “Dan apakah tidak
cukup bagi mereka bahwasannya kami telah menurunkan kepadamu al Kitab
(Al-Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka ?”.
Departemen Agama
RI. 2019, AL-Qur’an dan Terjemahannya; Syamil Qur’an. Bandung: PT. Sygma Media
Arkanlima
Hendri, Ari.
2005, Mukjizat al-Qur’an. Jakarta : Arta Rivera.
Ilyas, Yunahar.
2013/ Kuliah Ulumul Qur’an. Yogyakarta” Itqan Publishing.
Al-Isfari, Abu
Muhammad. 2014. Masuk Islam Karena al-Qur’an. Surakarta: al-Qudwah Publishing.
Jum’ah, Ahmad
Khalil. 1999. Al-Qur’an dalam Pandangan Sahabat Nabi, Jakarta:Gema Insani Press
As-Sunaidi,
Salman bin Umar. 2008. Mudahnya Memahami al-Qur’an. Jakarta: Darul Haq
|
19
|





Syukron
ReplyDelete