Membangun Interaksi Ideal Bersama Al-Qur'an


BAB I

PENDAHULUAN


Membaca adalah pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan. Dengan membaca maka pemahaman baru akan diperoleh dengan mudah. Namun masyarakat indonesia pada umumnya masih berada dalam transisi budaya lisan ke budaya tulisan. Kebiasaan membaca dan menulis masih belum berkembang dengan sepenuhnya pada anggota-anggota masyarakat. Kecendrungan mendapatkan informasi melalui percakapan tampaknya masih lebih kuat daripada melalui bacaan. Kecendrungan ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa minat dan kebiasaan membaca di kalangan siswa atau mahasiswa relatif masih lemah.
Kedudukan  membaca dalam ranah pendidikan di satu pihak sebagai integral, yaitu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keutuhan pendidikan. Di pihak lain, pengajaran membaca berkedudukan sebagai alat dan media fungsional, yaitu alat dan media yang mempunyai tersendiri dalam keseluruhan kegiatan pendidikan. Namun yang sangat disayangkan bahwa kebanyakan siswa belum menyadari akan pentingnya membaca sebagai kebutuhan dalam dunia pendidikan.
Sejalan dengan kedudukan membaca, maka fungsi utama pengajaran membaca di satu pihak menjaga keutuhan kehadiran pendidikan dan pengajaran bahasa khususnya, dan di pihak lain membina siswa dalam bidang membaca. Dalam Pendidikan Agama Islam membaca merupakan anjuran yang harus dilakukan oleh setiap manusia, hal ini sesuai dengan perintah pertama yang di wahyukan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW yang termuat dalam surat al-‘alaq ayat 1-5.




Artinya:  
1.      Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
2.      Dia telah menciptakan manusia dari 'Alaq.
3.      Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah.
4.      Yang mengajar manusia dengan pena.
5.      Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.



Dalam ayat ini di perintahakan agar manusia membaca semua ciptaan Allah baik yang tertulis ataupun yang tampak di alam semesta ini. Dengan membaca semua ciptaan Allah maka akan dinilai sebagai ibadah kepada-Nya.
Al-Quran merupakan Kalamullah yang semestinya di nomor satukan untuk dibaca oleh manusia, karena di dalamnya terdapat sumber ilmu dan disamping itu juga sebagai sendi agama. Mempelajari, belajar dan juga mengajarkan Al-Quran mendapat pujian yang tinggi dari Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori:




Artinya: Dari Utsman bin Affan RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda ‘yang paling baik diantaramu ialah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya’ (HR. Bukhori)

Dalam hadis ini menjelaskan bahwa sebaik-baik orang ialah mereka yang mempelajari dan kemudian mengajarkan Al-Quran. Begitu besar motivasi yang diberikan oleh Rasulullah kepada umat Islam agar seantiasa mengkaji dan menelaah Al-Quran sebagai pedoman dan tuntunan hidup dari mulai hidup di dunia sampai ke akhirat.
Tuntutan dan anjuran untuk mempelajari Al-Quran dan menggali kandungannya serta menyebarkan ajaran-ajarannya dalam praktek kehidupan masyarakat merupakan tuntunan yang tak akan pernah habisnya. Menghadapi tantangan dunia modern yang bersifat skuler dan materialistis, umat Islam dituntut untuk mengikuti bimbingan dan ajaran Al-Quran yang mampu memenuhi kekosongan nilai moral kemanusiaan dan spiritualitas, di samping membuktikan ajaran-ajaran Al-Quran yang bersifat rasional dan mendorong umat manusia untuk mewujudkan kemajuan dan kemakmuran serta kesejahteraan. Dengan demikian mempelajari Al-Quran tersebut (mulai dari membaca, sampai memahami maknanya) adalah keharusan mutlak bagi setiap manusia, mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Namun lain halnya dengan zaman modern ini . Berdasarkan pengamatan yang kami ketahui, kami melihat gejala-gejala berikut:
1. Sebagian orang  malas membaca  Al-Quran .
2.  Masih ada yang belum bisa membaca Al-Quran.
3.  Masih ada orang  yang kurang lancar membaca Al-Quran.
 4. Jika ada perlombaan membaca Al-Quran  kebanyakan orang enggan untuk mengikutinya. 
Melihat dari gejala inilah, maka kami akan menyampaikan studi kasus dengan judul “MINAT  MEMBACA AL-QURAN SEMAKIN MENURUN”.



 

BAB II

KAJIAN TEORI


1. Kemampuan membaca Al-Qur’an

a. Konsep Kemampuan Membaca

Kemampuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “mampu” yang mendapatkan awalan ke dan akhiran kan yang berarti kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan untuk melakukan sesuatu.
Membaca merupakan suatu kegiatan yang bersifat kompleks karena kegiatan ini karena melibatkan kemampuan dalam mengingat simbol-simbol grafis yang berbentuk huruf, mengingat bunyi dari simbol-simbol tersebut dan menulis symbol-simbol grafis dalam rangkaian kata dan kalimat yang mengandung makna. Menurut Farida Rahim yang mengutip pendapat Klein, mengatakan bahwa definisi membaca mencakup:
1) Membaca merupakan proses,
2) Membaca adalah strategis,
3) Membaca merupakan interaktif.
Membaca merupakan suatu proses dimaksudkan informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.
Al-Qur’an adalah nama bagi firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yang ditulis dalam mushaf (lembaran) untuk dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia yang apabila dibaca mendapat pahala (dianggap ibadah).
Athiyyah mengatakan dalam bukunya yang berjudul “ Ghoyatu alMurid fi ‘ilmi at-Tajwid”
Al-Qur’an al-Karim adalah kalamullah yang diturunkan atas nabi Muhammad saw, dianggap ibadah bagi yang membacanya , yang disatukan secara ringkas surat di dalamnya, yang sampai kepada kita dengan jalan mutawattir.
Jadi kemampuan membaca Al-Qur’an yang dimaksud oleh peneliti adalah kesanggupan anak untuk dapat melisankan atau melafalkan apa yang tertulis di dalam kitab suci Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan makrajnya.



b. Dasar Membaca Al-Qur’an

Dalam membaca Al-Qur’an ada beberapa aspek yang menjadi dasar yang dijadikan sebagai landasan, adapun dasar tersebut diantaranya :
1) Dasar Al-Qur’an


Firman Allah yang berhubungan dengan membaca Al-Qur’an adalah Q.S Al-’Alaq 1-5


Artinya:  
1.      Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
2.      Dia telah menciptakan manusia dari 'Alaq.
3.      Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah.
4.      Yang mengajar manusia dengan pena.
5.      Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya. (Q.S.al-’Alaq / 96 : 1-5 )

2) Dasar Hadits
Sedangkan hadits yang memerintahkan untuk membaca Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

Telah menceritakan kepadaku Abu Umamah AlBahalli berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela bagi orang yang membacanya (HR. Muslim)

3) Dasar Psikologi
 Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.8 Dalam hal ini mengapa psikologi termasuk aspek dasar dalam membaca Al-Qur’an, karena dalam psikologi yang dimaksud dengan tingkah laku adalah segala kegiatan, tindakan, perbuatan manusia yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, yang disadari ataupun yang tidak disadari, psikologi berusaha menyelidiki semua aspek dan kepribadian tingkah laku manusia.
            Setiap manusia hidup selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut agama. Untuk merasakan bahwa di dalam jiwanya ada perasaan yang meyakini adanya dzat yang maha kuasa sebagai tempat untuk berlindung dan memohon pertolongan. Sedangkan Al-Qur’an memberikan ketenangan jiwa bagi yang membacanya.

c. Adab Membaca Al-Qur’an

 Dalam melakukan segala perbuatan yang dilakukan manusia memerlukan adab (etika), hal ini dapat diartikan aturan, tata susila, sikap atau akhlak, dengan demikian adab (etika) dalam membaca Al-Qur’an secara kebahasaan adalah ketentuan atau aturan yang berkenaan dengan tata cara membaca Al-Qur’an.


Membaca Al-Qur’an tidak sama dengan membaca koran, atau buku-buku lain yang merupakan kalam manusia dan bersifat perkataan belaka. Membaca AlQur’an merupakan membaca kalamullah berupa firmanfirman Tuhan, ini merupakan komunikasi antara makhluk dengan Tuhannya, seolah-olah berdialog dengan Tuhannya. Oleh karena itu, diperlukan adab dan aturan yang perlu diperhatikan, dipegang serta dijaga sebelum dan disaat membaca Al-Qur’an, agar dapat bermanfaat bacaannya, sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya 1) Adab Membaca Al-Qur’an Banyak sekali adab-adab membaca Al-Qur’an. Namun, adab membaca Al-Qur’an dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu adab lahiriyyah dan adab bathiniyyah.

 a) Adab lahiriyah, diantaranya:

 (1) Dalam keadaan bersuci Diantara adab membaca Al-Qur’an adalah bersuci dari hadats kecil, hadats besar, dan segala najis, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah bukan perkataan manusia. Sesuai dengan firman Allah yang artinya “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbil 'alamiin(Q.S. al-Waqi’ah/56: 79-80).”
 (2) Memilih tempat yang pantas dan suci Tidak seluruh tempat pantas atau sesuai untuk membaca Al-Qur’an, ada beberapa tempat yang tidak sesuai dalam membaca AlQur’an seperti di kamar mandi, pada saat buang air kecil, di tempat-tempat kotor dan lain-lain. Hendaknya pembaca Al-Qur’an memilih tempat yang suci dan tenang seperti masjid, mushalla, rumah atau tempat yang dianggap terhormat.
 (3) Menghadap kiblat dan berpakaian sopan Pembaca Al-Qur’an dianjurkan menghadap kiblat dan berpakaian secara sopan, karena membaca Al-Qur’an adalah beribadah kepada Allah SWT, seolah-olah pembaca berhadap dengan Allah untuk berdialog denganNya.
(4) Bersiwak (membersihkan mulut) Hal ini bertujuan untuk membersihkan sia-sisa makanan dan bau mulut yang tidak enak, orang yang membaca Al-Qur’an seperti halnya berdialog dengan Allah, maka sangat kayak jika ia bermulut bersih dan segar bau mulutnya.
 (5) Membaca ta’awudz sebelum membaca AlQur’an. Allah berfirman Q.S. an-Nahl/16 : 98 yang artinya “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (Q.S. an-Nahl/16 : 98).”
(6) Membaca dengan tartil Membaca tartil adalah membaca dengan tenang, pelan-pelan dan memperhatikan tajwidnya.13 Allah berfirman QS: AlMuzammil: yang artinya” Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan (QS: AlMuzammil/73:4).
 (7) Membaca Jahr(nyaring)
 (8) Memperindah suara Al-Qur’an adalah hiasan bagi suara, maka suara yang bagus akan menembus hati, usahakan membaca Al-Qur’an dengan memperindah suara, tentunya tidak berkelebihan sehingga tidak memanjangkan bacaan yang pendek, atau sebaliknya memendekkan bacaan yang panjang.

b) Adab batiniah di antaranya:



(1) Membaca Al-Qur’an dengan tadabburr.
Tadabbur yaitu memperhatikan sungguhsungguh hikmah yang terkandung dalam setiap penggalan ayat yang sedang dibacanya.
(2) Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’ dan khudhu’.
Artinya merendahkan hati kepada Allah SWT sehingga Al-Qur’an yang dibaca mempunyai pengaruh bagi pembacanya.17 Allah berfirman: QS; Al-Isra’;109 yang artinya “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'.( QS; Al-Isra’;109).”
(3) Membaca dengan Ikhlas
yakni membaca AlQur’an hanya karena Allah dan hanya mencari ridho Allah.

d. Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an merupakan pekerjaan yang utama, yang mempunyai berbagai keistimewaan dan kelebihan dibandingkan dengan membaca bacaan lainnya. Al-Qur’an mempunyai beberapa keutamaan bagi orang yang membaca dan mempelajarinya. Diantara keutamaan membaca Al-Qur’an adalah:
1)      Menjadi manusia terbaik, 
Hajjaj bin Minhal menceritakan kepada kita, Syu’bah menceritakan kepada kita, dia berkata: ‘Alqomah bin Marsad mengabarkan kepada saya saya mendengar Sa’ad bin Ubaidah dari Abi Abdirrahman as-Sulami dari Usman RA dari Nabi SAW, beliau bersabda: “sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an” (HR. Bukhari)
2) Orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan kenikmatan tersendiri.
3) Orang yang membaca Al-Qur’an diberikan derajat yang tinggi.Sebagaimana hadist Nabi: Dari Umar Bin Khotob ra. Bahwa Nabi Muhammad SAW. Bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajad beberapa kaum dengan AlKitab (Al-Qur’an), dan ia akan merendahkan derajad suatu kaum yang lain dengannya. (H.R Al-Bukhari Muslim).

e. Enam Hal yang Harus di Perhatikan untuk Mewujudkan Bentuk Interaksi yang Ideal dengan Al-Qur’an



Sesungguhnya merupakan kelembutan dan rahmat dari Allah SWT kepada kaum muslimin yaitu Allah telah memberitahukan bagaimana cara mereka berinteraksi dengan al-Quran agar kita mendapatkan pahala dan keutamaan darinya. Dalam hal ini telah banyak ayat-ayat al-Quran yang memberitahukan, mengabarkan atau menceritakan kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan al-Quran. Diantara ayat-ayat itu adalah:

1.      At-Tadabbur (Mentadabburi al-quran). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Muhammad (47) ayat 24:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾
Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad(47): 24)
Al-quran bukanlah buku bacaan yang hanya dibaca tanpa adanya pentadabburan atau perenungan dari orang yang membacanya. Namun inilah yang terjadi dimasyarakat kita sekarang, mereka hanya membaca al-Quran dengan mulutnya saja tanpa direnungkan dalam hatinya apa makna dan hikmah dalam ayat atau surat yang mereka baca. Oleh karena itu kebanyakan masyarakat sekarang masih tidak mampu dalam mengendalikan dirinya khususnya dalam akhlak mereka, karena al-Quran bagi mereka hanyalah seperti angin lewat yang tidak ada dampak, bekas atau fungsi apapun yang dapat merubah dan memajukan diri orang yang membaca kalam Allah SWT itu.
Rumah yang terkunci, lemari yang terkunci, jendela yang terkunci atau segala sesuatu yang terkunci, apakah kita bisa masuk atau memasukkan sesuatu kedalamnya dalam keadaaan terkunci seperti itu?, tentu jawabannya tidak. Begitupun dengan hati yang terkunci yang meskipun dibacakan kepadanya ayat-ayat al-Quran atau hadis-hadis nabi, tapi karena hatinya telah terkunci, maka ayat-ayat dan hadis nabi yang disampaikan kepadanya tidak akan berpengaruh terhadapan perubahan kehidupannya. Sama halnya dengan mereka yang membaca al-Quran hanya menggunakan lisannya saja tanpa menggunakan hatinya untuk mentadabburi ayat-ayat yang dibacanya.

2.      At-tadzakkur (mengingat /mempelajarinya), sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Qamar (54) ayat 17:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِر  ﴿١٧﴾
Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (al-Qamar (54): 17)
Al-quran adalah kitab yang jelas kebenarannya dan mudah dimengerti (masuk akal) dalam kisah-kisah atau pelajaran-pelajaran yang terdapat didalamnya. Maka semua pelajaran atau kisah-kisah yang ada dalam al-Quraan merupakan pengajaran Allah SWT kepada umat manusia agar dapat terlepas dari kesesatan-kesesatan atau ketidak mengertian hidup di dunia yang pana ini menuju hidayah dan cahaya Allah SWT.
Dalam membaca al-Quran kita tidak diharuskan membaca banyak-banyak tapi kosong pelajaran, akan tetapi dalam membaca al-Quran tentu kita harus dibarengai dengan mempelajarinya. Karena seseorang itu tidak dilahat banyak sedikitnya ia membaca al-Quran akantetapi dilihat apakah ia dapat mengambil pelajaran yang ada di dalamnya meskipun ia hanya membaca satu atau dua ayat saja.
Para sahabat pada zaman nabi saw tidak pernah membaca al-Quran kecuali mereka membaca untuk mempelajarinya, bahkan dalam sirah-nya nabi saw mengajarkan al-Quran kepada para sahabatnya tidak banyak-banyak tapi hanya sepuluh ayat-sepuluh ayat hingga para sahabat mempelajari dan memahami makna yang terkandung dalam ayat itu, barulah nabi mengajarkan sepuluh ayat berikutnya dan harus kita ketahui bahwa dalam pengajarannya tersebut Rasulullah SAW tidak mewajibkan untuk menghafalnya, akan tetapi beliau hanya fokus dalam mengajarkan makna dan hikmah yang ada dalam ayat tersebut.


 

3.      Al-isti’adzah qobla al-qira’ah (membaca ta’awwudz sebelum membacan al-Quran), sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nahl (16) ayat 98:
 فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾
Artinya: Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (an-Nahl (16): 98)
Merupakan dari ciri karakter setan adalah mereka senantiasa berusaha dalam memalingakan dan menghalang-halangi kita dari amalan-amalan saleh yang akan mendekatkan kita kepada Allah SWT sebagimana yang telah diakui oleh setan itu sendiri yang diabadikan oleh Allah SWT dalam surat al-A’raf (7) ayat 16:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾
Artinya: “Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” (al-A’raf (7): 16)
Dari ayat diatas maka jelaslah bawa setan telah mengatakan sendiri bahwa ia akan selalu menghalang-halangi manusia dari perbuatan baik termasuk didalamnya adalah ketika seseorang  mempelajari al-Quran. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan kepada kita agar mengucapkan ta’awwudz sebelum membaca dan mempelajari al-Quran sebagai tameng bagi diri kita dari gangguan setan yang terkutuk.

4.      Al-istimaa wa al-inshath (mendengarkan dan berdiam ketika dibacakan al-Quran), sebagaimana firman Allah dalam surat al-‘Araf (7) ayat 204:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿٢٠٤﴾
Artinya: “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (al-‘Araf (7): 204)
Dalam mendapatkan hidayah atau petunjik seseorang tidak hanya karena ia sering membaca al-Quran saja, akantetapi mungkin dan banyak terjadi seseorang yang mendapatkan hidayah justru karena ia mendengarkan ayat-ayat Allah SWT dari mulut orang lain, entah itu karena orang yang membacanya dapat membaca dengan tartil sesuai dengan tajwid, makhorojul hurf dan panjang pendeknya ataupun karena keindahan suara orang yang membacanya sehingga lebih memperindah ayat-ayat al-Quran dengan suara merdu orang yang membaca ayat tersebut. Sebagai contoh adalah Umar bin Khattab yang mana ia adalah seorang yang keras dan sangat membenci Rasulillah SAW, namun ketika ia mendengarkan al-Quran dari adiknya sendiri ia mengurungkan niatnya untuk membunuh Rasulullah SAW bahkan akhirnya ia menyatakan keislamannya kepada Rasulullah SAW.
Maka itulah salah satu hikmah yang sangat berharga ketika kita mendengar al-Quran lantas kita mendengarkannya dengan khidmat dan penuh perhatian. Jangan sampai kita berlaku sebaliknya, ketika ada seseorang yang membaca al-Quran kita malah mengganggu orang tersebut dengan menyetel lagu-lagu yang bervolume sangat keras atau pun dengan gangguan-gangguan lain. Maka sungguh perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dihadapan Allah SWT atau dihadapan manausia.

5.      I’timadu at-tartil (memprioritaskan  pembacaannya dengan tartil), sebagaimana firman Allah SWT dalam  surat al-Muzammil ayat 4:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ﴿٤﴾


Artinya: Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. (al-muzammil (73): 4)
Membaca dengan tartil, artinya dalam membaca al-Quran tidak seharusnya kita tergesa-gesa sehingga dapat merusak bacaan kita dari kaidah-kaidah tajwid makhorijul huruf dan panjang pendeknya yang mana kita ketahui bahwa al-Quran adalah berbahasa arab yang apabila dalam membacanya ada satu huruf saja yang tidak terbaca atau makhorijul hurufnya salah, maka kemungkinan besar maknanya akan berbeda dengan yang diharapkan oleh sang pemilik al-Quran tersebut yaitu Allah SWT.
Membaca al-Quran dengan tartil juga dapat menolong kita dalam memahami al-Quran secara jeli dan teliti sehingga tiap kalimat yang kita baca akan meresap dan membekas dalam hati dan jiwa kita. Dengan pembacaan yang tartil, kita juga dapat terhindar dari ketertinggalan makna kalimat dari ayat yang kita baca yang dapat menjadikan kita kurang paham terhadap ayat tersebut, namun hal tersebut tidak akan terjadi jika dalam membacanya kita memikirkan kata-perkata atau kalimat perkalimat secara tartil.
Dan sabda rasulullah saw:

Artinya: “telah menceritakan kepada kami Salmah bin Syabib, telah menceritakan kepada kami Abdu a-Razzaq, telah menceritakan kepada kami abdullah bin al-Muharrar dari Qotadah, dari Anas, ia berkata (bahwa) rasulullah SAW pernah bersabda: ‘stiap sesuatu itu memiliki warna dan warnanya al-Quran adalah (pembacaannya dengan) suara yang bagus”.

6.      Ar-ruju ila ahli adz-dzikri (kembali kepada ahli ilmu), sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nahl (16) ayat 43:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٤٣﴾
Artinya: maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”, (an-nahl (16): 43)
Yang dimaksud dengan ahli ilmu di sini adalah mereka yang memahmi ilmu-ilmu tentang al-Quran dengan segala seluk beluknya, yang mana kita diperintahkan untuk mengembalikan atau bertanya kepada mereka tentang makna-makna atau dalil-dalil dari ayat-ayat al-Quran yang belum kita pahami. Jadi jangan sampai kita menafsirkan al-Quran dengan ilmu kita yang terbatas, sehingga tidak memperhatikan prinsip-prinsip dalam menafsirkan sebuah ayat al-Quran.


Dan firman Allah SWT dalam surat ali Imran (3) ayat 7:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ ﴿٧﴾


Artinya: tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya…” (ali Imran (3): 7)
Ayat ini juga merupakan penegasan bagi kita agar kita senantiasa bertanya kepada yang mendalami ilmu tentang al-quran ketika kita mendapatkan ayat al-Quran yang tidak kita pahami makna dan tujuan yang terkandung didalamnya sehingga kita tidak keliru dalam memahami ayat tersebut.
Para ulama berbeda berpendapat dalam memahami siapakah yang dimaksud dengan ar-Rasihuna fi al-ilmi dalam ayat tersebut, namun pendapat yang lebih dekat adalah mereka yang merupakan golongan keluarga Rasulullah SAW (ahlul bait) yang mana mereka mengambil ayat-ayat tersebut murni langsng dari nabi saw. Namun dari sana kita bisa mengambil faidah, dikarenakan kita tidak menemukan mereka lagi dalam artian kita sudah berbeda zaman dengan masa nabi, maka tentu kita harus bertanya kepada orang yang lebih mengetahui dibandingkan kita, yaitu kepada mereka yang selalu mendalami ilmu-ilmu al-Quran.


BAB III

PEMBAHASAN


A.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Al-Qur’an Secara umum

 Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca Al-Qur’an di bagi menjadi 3, yaitu:

1)      Faktor Internal (faktor dari dalam diri siswa)
Yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor internal meliputi 2 aspek, yaitu:

 a) Aspek Fisiologis (yang bersifat jasmaniah) Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi intensitas dan semangat, hal ini dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga proses informasi sangat terganggu.
Keadaan fungsi fisiologis tertentu, terutama kesehatan pancaindra akan mempengaruhi belajar. Pancaindra merupakan alat untuk belajar. Karenanya, berfungsinya pancaindra dengan baik merupakan syarat untuk dapatnya belajar dengan baik, indra merupakan gerbang masuknya berbagai informasi dalam proses belajar.
 Kondisi fisiologis mempunyai peran penting dalam memengaruhi kemampuan membaca AlQur’an. Karena dalam membaca Al-Qur’an diperlukan indra penglihat sebagai sarana melihat objek yang dibaca, serta indra pendengar sebagai sarana untuk menerima informasi. Kondisi fisiologis sangat mempengaruhi intensitas dalam kemampuan membaca Al-Qur’an.
 b) Aspek Psikologis (yang bersifat rohaniah) Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis mempengaruhi kuantitas dan kualitas kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an. Muhibbin Syah dalam bukunya menjelaskan, ada beberapa faktor-faktor rohaniah siswa pada umumnya dipandang lebih esensial yaitu;
(1) Intelegensi
 Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuanpsiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber,1988). Jadi, inteligensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja melainkan kualitas organ-organ tubuh lainnya. Harus diakui, peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi manusia lebih menonjol dari pada peran organ tubuh lainnya.
Kemampuan intelegensi seseorang ini dapat terlihat adanya beberapa hal, yaitu:
(a) Cepat menangkap isi pelajaran
(b) Tahan lama memusatkan perhatian pada pelajaran dan kegiatan.
(c) Dorongan ingin tahu kuat dan banyak inisiatif

1
(d) Cepat memahami prinsip dan pengertian
(e) Sanggup bekerja dengan baik
(f) Memiliki minat
Intelegensi ini sangat dibutuhkan sekali dalam belajar, karena dengan tingginya inteligensi seseorang maka akan lebih cepat menerima pelajaran atau informasi yang disampaikan, termasuk kemampuan membaca Al-Qur’an.
 (2) Sikap
 Sikap adalah gejala internal yang berdimensi gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara relative tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya.
(3) Bakat  Secara umum
 Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat juga diartikan sebagai sifat dasar kepandaian seseorang yang dibawa sejak lahir.Adanya perbedaan bakat seseorang dapat memengaruhi cepat atau lambat dalam menguasai kemampuan membaca Al-Qur’an.
(4) Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu.
Adanya minat, terhadap belajar membaca Al-Qur’an akan mendorong siswa untuk mempelajarinya dan mencapai hasil yang maksimal. Dr. Nyanyu Khadijah mengatakan dalam bukunya. Karena minat merupakan komponen psikis yang mendorong seseorang untuk meraih tujuan yang diinginkan, sehingga seseorang bersedia melakukan kegiatan berkisar objek yang diminati. Jika sikap ini tumbuh dan berkembang pada pola belajar peserta/anak didik maka proses belajar mengajar akan berkembang dan meningkat dengan baik
(5) Motivasi
Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organism yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energi) untuk bertingkah laku secara terarah.
 Dalam perkembangan selanjutnya motivasi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
(a)    Motivasi Intrinsik
 Motivasi Intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk masa depan siswa yang bersangkutan tersebut.


(b)   Motivasi Ekstrinsik
 Motivasi Ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang dating dari luar individu siswa yang juga memdorongnya untuk melakukan belajar. Misalnya, pujian, hadiah, suri tauladan guru, orang tua dan lain sebagainya.

2)      Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa)
Yakni kondisi di sekitar siswa. Faktor eksternal adalah faktor yang timbul dari luar diri siswa. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi kemampuan membaca Al-Qur’an secara umum terdiri dari dua macam, yaitu:
a)      Lingkungan sosial
Lingkungan sosial yang paling banyak mempengaruhi adalah orang tua dan keluarga. Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan letak demografi keluarga (letak rumah), semua dapat memberikan dampak baik atau buruk terhadap proses belajar.
Yang termasuk lingkungan sosial lainnya adalah guru, terutama kompetensi pribadi dan professional guru sangat berpengaruh pada proses dan hasil belajar yang dicapai anak didik.Selanjutnya, lingkungan sosial mencakup, temanteman bermain, kurikulum sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat yang dimaksud disini adalah lingkungan di luar sekolah.
 Lingkungan masyarakat dapat diartikan lingkungan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Lingkungan masyarakat ini sangat besar sekali pengaruhnya dalam ikut serta menentukan keberhasilan proses pendidikan, karena lingkungan masyarakat yang secara langsung bersinggungan dengan aktivitas sehari-hari.
b)      Lingkungan non sosial
 Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.
Semua ini dipandang turut menentukan kemampuan membaca Al-Qur’an. Misalnya rumah sempit dan berantakan atau perkampungan yang terlalu padat penduduk serta tidak memiliki sarana belajar, hal ini akan membuat siswa malas belajar dan akhirnya berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an.

3)      Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning)
Faktor pendekatan belajar, dapat dipahami sebagai cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang dalam keefektifan dan efisiensi proses pembelajaran tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.



 
B.     PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP MINAT BACA AL-QURAN
Salah satu faktor atau penyebab terjadinya penurunan minat baca Al-Qur’an yang pertama adalah kemajuan teknologi. Yang dimaksud disini adalah semakin canggih suatu alat teknologi semakin banyak pula minat pemakaiannya. Sekarang banyak remaja yang salah guna dalam menggunakan teknologi. Mereka lebih memilih menggunakan gadget untuk hal-hal yang tidak penting seperti mereka lebih memilih mengisi waktu luang dengan menggunakan gadget untuk bermain media sosial. Mereka lebih mementingkan kepopulerannya di media sosial dengan memosting beberapa foto dan status yang kurang bermanfaat dari pada mengisi waktu kosong mereka dengan hal-hal yang baik.
Keasikan remaja menggunakan gadget, membuat mereka hampir lupa waktu dan kecanduan dari gadget tersebut. Mereka sama sekali tidak memperdulikan apa yang terjadi disekitarnya. Banyak dari mereka lebih mengisi waktu luangnya dengan gadgetnya untuk foto-foto dibandingkan meluangkan sedikit waktu dengan membaca Al-Qur’an. Padahal, mereka bisa mendownload aplikasi Al-Qur’an digadgetnya dan mereka bisa meluangkan waktu untuk membacanya. Logikanya, mereka pasti setiap hari menggunakan handphone dan gadgetnya, tentu saja mereka sebenarnya bisa meluangkan waktu untuk mendownload aplikasi Al-Qur’an dan membacanya meskipun hanya satu ayat.
Faktor kedua yang menyebabkan minat baca Al-Qur’an adalah kurangnya tanggung jawab orang tua untuk memberikan fasilitas dan mengarahkannya dalam kegiatan membaca atau belajar terhadap anaknya. Orang tua yang kurang memperhatikan kegiatan belajar anaknya, tidak peduli apa yang dilakukan anaknya, acuh tak acuh, dan akhirnya prestasi belajarnya sang anak menurun, kemudian nilai-nilai dalam keagamaannya sendiri kurang diperhatikan. Disini dapat disimpulkan bahwa peran orang tua sangat besar dalam meningkatkan minat baca Al-Qur’an seorang anak. Orang tua dituntut supaya mengajarkan hal-hal yang baik kepada anaknya, seperti meningkatkan minat baca Al-Qur’an sang anak dengan memperbaiki ikatan anak dan orang tua, meluangkan waktu bersama untuk membaca Al-Qur’an.
Faktor ketiga ialah menurunnya jumlah guru mengajar mengaji. Guru mengaji sulit ditemukan, bahkan di antara mereka kadang enggan mengajar mengaji atau disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sesuai yang disampaikan Menteri Agama, Suryadharma Ali pada saat meresmikan Masjid AlMunawariyah di Pondok Pesantren Al-Munawariyah, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur, Ahad 24 Maret 2013. Berdasarkan laporan yang diterimanya, saat di Kabupaten Garut saja sudah terjadi kelangkaan guru ngaji, karena banyak ustadz/ustadzah yang alih profesi untuk mencari mata pencaharian lain, akibat kurang perhatian pemerintah. Disini dapat disimpulkan bahwa pemerintah ikut berperan dalan tingkat minat baca Al-Qur’an.


Faktor keempat adalah kurang kesadaran dari diri sendiri. Yang dimaksud disini adalah kebanyakan anak remaja kurang menghiraukan akan pentingnya membaca Al-Qur’an. Mereka lebih sibuk memperhatikan trend dan gaya masa kini. Sangat miris melihat anak remaja zaman sekarang, mereka yang sangat enggan untuk membaca Al-Qur’an.
Faktor kelima yaitu faktor lingkungan. Faktor lingkungan juga berpengaruh dalam penurunan minat baca A-Qur’an. Contohnya, ada sebuah keluarga yang pindah rumah dan menetap disebuah tempat lingkungannya yang memungkinkan kurang mendidik atau tidak mendukung. Tentu saja lingkungan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan anak dari keluarga tersebut. Pergaulan sesama temannya dapat cepat sekali mempengaruhi kebiasaan anak itu.
Dari faktor penurunan tersebut, diperlukan suatu solusi untuk meningkatkan minat baca Al-Qur’an. Karena hal ini sangatlah penting. Terdapat lima cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama, adanya program literasi baca Al-Qur’an sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Seperti di sekolah SMA Negeri 1 Koba yang telah menerapkan literasi baca Al-Qur’an sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Hal ini bertujuan untuk membuat suasana menjadi tenang dalam kegiatan belajar mengajar, lebih fokus dan meningkatkan diri kepada Allah SWT selain meningkatkan literasi membaca Al-Quran itu sendiri.
Kedua, meningkatkan kesadaran diri sendiri. Kita harus intropeksi diri apa yang ingin kita lakukan. Apabila ada waktu luang, kita bisa untuk memulai hal baru, hal yang mungkin tidak pernah kita lakukan. Dari sinilah kita dapat memulai mengisi waktu luang kita dengan membaca kitab suci Al-Qur’an dibandingkan dengan membuang waktu sia-sia. Misalnya dengan membaca Al-Qur’an selesai sholat. Meskipun hanya dua atau tiga ayat, maanfaat yang bisa kita dapatkan begitu banyak. Jangan enggan memulai hal yang baru, karena itu akan membuat diri kita lebih baik lagi.
Ketiga, memanfaatkan kemajuan teknologi yang kian canggih. Kita dapat memodifikasi cara belajar penulisan dan membaca Al-Qur’an dengan menggunakan komputer ataupun laptop. Siswa atau guru bisa mengaplikasikan laptop atau komputer untuk proses belajar mengajar membaca atau menulis huruf-huruf Al-Qur’an. Dengan semakin canggih alat elektronik yang masuk dalam dunia pendidikan, disamping para siswa telah memiliki dasar kemampuan menggunakan komputer ataupun laptop, maka siswa akan semakin tertarik dan tertantang untuk belajar Al Quran.
Keempat, meningkatkan peran orang tua untuk meningkatkan minat baca. Karena orang tua sangat berpengaruh dalam perkembangan anak. Orang tua harus bisa mengubah pola asuh anak. Yang semulanya hubungan anak dan orang tua renggang atau orang tua kurang memperhatikan si anak. Orang tua bisa menghidupkan kembali suasana menjadi lebih harmonis. Dengan cara, orang tua bisa meluangkan waktu luang dengan anaknya untuk solat berjamaah atau bisa juga mengajak anak untuk mengaji bersama. Hal ini dapat membuat perkembangan anak menjadi lebih baik.


Kelima, peran pemerintah untuk meningkatkan jumlah guru ngaji. Pemerintah bisa melakukan suatu program pertemuan antara guru-guru yang mengajar mengaji dan melakukan pelatihan untuk para guru mengaji. Pemerintah juga harus memperhatikan kesejahteraan para guru ngaji sehingga fokus mengajar mengaji saja dan tidak disibukkan masalah lainnya. Pemerintah membangun sekolah khusus untuk membina para guru ahli Al-Quran yang akan bersedia untuk mengajar anak-anak atau remaja tentang membaca dan mempelajari Al-Quran setelah menamatkan pendidikannya.
Membaca Al-Qur’an banyak memberikan manfaat yang dapat kita ambil. Menurut Dr. Al Qadhi yang merupakan seorang dokter syaraf ternama di Amerika Serikat, melalui penelitiannya bertahun-tahun di Klinik Induk Florida. Beliau mengatakan, dengan mendengar ayat suci Al-Qur’an seorang muslim bisa merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar, menambah kecerdasan bagi otak, menurunkan despresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal beberapa macam penyakit. Penelitian Dr. Al Qadhi ini, diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Manfaat Al-Qur’an bagi seorang bayi sangat berpengaruh besar, Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa Allah menurunkan kitab suci Al-Qur’an bukan tanpa alasan. Allah memiliki tujuan yang sangat penting menurunkan kitab suci Al-Quran sebagai sebuah pedoman bagi umat Islam. Al-Quran juga membawa banyak macam manfaat. Salah satunya dengan membaca Al-Qur’an dapat meningkatkan kecerdasan otak, daya ingat yang kuat dan memberikan ketenangan dalam jiwa. Jadi, tentu saja sangat rugi sekali bagi mereka yang enggan atau gengsi untuk mempelajari kitab suci Al-Quran dan membacanya, karena mereka telah melewatkan berbagai macam manfaat yang terjadi apabila kita mempelajari dan membaca kitab suci Al-Qur’an. Oleh karenanya, mari kita tingkatkan minat baca kita terhadap Al-Qur’an, sehingga dapat menjadi ibadah sekaligus dapat membawa dampak positif bagi kita sendiri.


C.    CARA MENINGKATKAN INTERAKSI IDEAL BERSAMA ALQURAN
1. Pelajari dan ketahui tentang manfaat dan keutamaan membaca Al-Qur’an
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dari huruf itu, dan satu kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan alif-lam-mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Turmudzi)
Sekarang, coba kita bayangkan, kalau kita berhasil menyelesaikan 1 juz dalam Al-Qur’an. Dan dari setiap huruf yang kit abaca diberikan ganjaran 10 kali lipat, begitu luar biasa pahala yang kita dapatkan dari membaca Al-Qur’an.


Oke sepakat ya, ada banyak sekali keutamaan membaca Al-Qur’an. Apalagi mereka yang mempelajari dan mengajarkannya, kebaikannya akan selalu mengalir dan menjadi jariah yang pahalanya tetap mengalir walaupun sudah mati. Dan mereka juga disebutan sebagai sebaik baik makhluk sejagat raya. Dan terlebih lagi, mereka akan mendapatkan syafa’at di akhirat kelak.
Jadi, tidak ada lagi sebenarnya alasan untuk idak membaca Al-Qur’an.
2. Buat komitmen pada diri sendiri
Buatlah komitmen dan janji pada diri sendiri untuk bisa selalu Istiqomah dalam mambaca Al-Qur’an setiap hari. Yakinkan diri sendiri, bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari Al-Qur’an kecuali jika ajal suda datang menjemput. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pelita jika kita Tersesat dalam kegelapan. Yakinlah! Al-Qur’an akan menjadi kompas jikala kita tersesat dan kehilangan arah, dan sebagai obat jikala hati kita sakit.
3. Mencari teman yang tujuannya sama
Bersama sama dengan orang yang sholeh dan sholehah yang sama sama mencintai Al-Qur’an akan mendorong keinginan kita dalam membaca dan Mempelajarinya. Secara langsung atau tidak kita akan selalu semangat dalam membaca dan mempelajarinya.
Kalau kita tidak bisa menemukan orang orang seperti itu karena beberapa alasan, maka kita bisa ikut di komunitas social media yang punya satu visi dengan kita. Contohnya komunitas One Day One Juz.
4. Bergabung dengan komunitas pecinta Al-Qur’an
Mungkin, kita tidak bisa menemukan orang di lingkungan kita yang juga mencintai Al-Qur’an dikarenakan beberapa hal. Jangan putus semangat! Ada banyak komunitas komunitas diluar sana yang juga satu tujuan dengan kita. Apalagi seiring berkembangnya zaman komunitas komunitas ini banyak yang menyediakan komunitas online.
Di dalamnya kita bisa banyak belajar dan mendapatkan banyak motivasi yang bisa kita jadikan sebagai batu loncatan untuk mempertahankan semangat serta kemauan kita dalam membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
5.Mencintai Al-Qur’an dan memiliki hasrat untuk terus mempelajari Al-Qur’an
Yaitu cintailah Al-Qur’an, dan milikilah hasrat untuk selalu membacanya. Adakalanya kita merasa jenuh atau mungkin ada rasa malas yang mulai menggoda. Sesungguhnya, saat itu Al-Qur’an lagi rindu dan pengen dibaca sama kita. Maka, cintailah Al-Qur’an, Kitab Allah yang maha sempurna.
Selain itu, jangan malu untuk membaca atau bertilawah di tempat umum. Karena untuk mencapai satu juz satu hari, bisa saja kita membaca Al-Qur’an dimanapun kita berada kalau ada waktu kosong. Buat apa malu? Toh, kan mereka Cuma manusia.. masa bodo mereka mau bilang apa. Kan yang member kita pahala itu Allah, bukan mereka.


 

BAB IV

PENUTUP


1.      Kesimpulan
        Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa setiap umat Islam hukumnya wajib untuk memperdalam Al-Qur’an dan mengamalkannya, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup didunia, sehingga ia benar-benar menjadi pedoman hidup yang akan membawa pada kebangkitan dan kemenangan.
        Apabila kita menginginkan kebahagiaan, maka kembalilah kepada Al-Quran dan apabila kita menginginkan kesuksesan dan kemuliaan, maka berpegang teguhlah pada Al-Quran karena didalamnya terdapat segala apa yang kita perlukan utuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ankabuut ayat 51 yang berarti : “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasannya kami telah menurunkan kepadamu al Kitab (Al-Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka ?”.



 DAFTAR PUSTAKA

 Al Qur’an dan Terjemahannya.
Departemen Agama RI. 2019, AL-Qur’an dan Terjemahannya; Syamil Qur’an. Bandung: PT. Sygma Media Arkanlima
Hendri, Ari. 2005, Mukjizat al-Qur’an. Jakarta : Arta Rivera.
Ilyas, Yunahar. 2013/ Kuliah Ulumul Qur’an. Yogyakarta” Itqan Publishing.
Al-Isfari, Abu Muhammad. 2014. Masuk Islam Karena al-Qur’an. Surakarta: al-Qudwah Publishing.
Jum’ah, Ahmad Khalil. 1999. Al-Qur’an dalam Pandangan Sahabat Nabi, Jakarta:Gema Insani Press
As-Sunaidi, Salman bin Umar. 2008. Mudahnya Memahami al-Qur’an. Jakarta: Darul Haq

19
 

Comments

Post a Comment